Kehidupan Kids Zaman Now Di Tanah Papua Kota Jayapura
Kota Jayapura adalah ibukota Provinsi Papua, ujung timur indonesia itu, menyimpan berbagai kondisi sosial, Politik, ekonomi yang kian bergejolak tidak menentu arahnya. Miras, Berjudi, Narkoba (Ganja) menghirup Lem Aibon dan Sex Bebas. Merupakan beberapa contoh yang menjadi pergumulan orangtua terhadap anak-anak mereka karena moral para muda-mudi kian sakit.
Kota Jayapura, tidak seperti sepuluh (10) tahun yang lalu. Sewaktu dulu, Warga masyarakat sangat tekun kepada ajaran masing-masing agama. Saya ingat, hampir setiap bulan di adakan kebaktian kebangunan rohani (KKR). Masalah kesejahteraan sosial seperti Miras, Judi, Narkoba (ganja), Togel, Orang Gila, Anak Jalanan yang menghirup Aibon juga tidak banyak. Pada waktu itu, perempuan sangat menjaga diri mereka. Namun sekarang telah terbalik 100 derajat. kota Jayapura, tidak seperti sekarang dengan jumlah penduduk yang kian meningkat. Sangat sayang, kondisi sosial hidup masyarakat kota ini sangat memperihatinkan dari sisi moral yang kunjung menjadi masalah terbesar.
Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua dan Papua Barat, merupakan cara pemerintah pusat untuk menenangkan gejolak politik. Dengan harapan, orang papua sendiri dengan adanya kebijakan khusus bisa menjadi tuan di negeri sendiri, dan memimpin bangsanya dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia (NKRI).
Saya anak muda papua yang tidak mengerti arah dan kebijakan untuk melakukan proteksi yang di lakukan oleh pemerintah papua. padahal sudah jelas, yang mau dilindungi adalah manusia dan alamnya yang perlu di lindungi. Tapi belum sampai kesana, karena produk peraturan daerah khusus yang seharusnya telah di rumuskan tapi hingga kini belum juga ada.
Miras, Semua Kepala Daetrah Tidak Tegas
Pencanangan Papua bebas dari Minuman Keras (Miras) oleh Lukas Enembe, Gubernur Papua itu, tidak tegas. Mengingat penandatanganan deglarasi bersama oleh bupati dan Walikota tentang pemusnahan Miras di Tahun ini tidak dihindakan oleh bupati dan Walikota. Seperti contoh, kota Jayapura. Masyarakat mudah sekali mendapatkan Miras dari Toko dan Miras Racikan (lokal). Belum lama ini, Enembe melantik, pejabat walikota Jayapura pak Daniel Bahabol dan salah satu pesannya yaitu supaya segera memberhentikan peredran Miras, tapi pesan pak gubernur itu, bukanlah pesan yang berarti. Karena pak Daniel Bahabol tidak mampu menjalankan pesan dari atasan.
Peredaran Miras, bukan lagi dijual pada toko-toko tertentu. Sekarang ada Miras yang di jual di kios-kios kecil pinggiran jalan bahkan dengan modus penjual berdiri di pingggiran jalan dan menawarkan miras kepada setiap orang yang sedang mengendarahi kendarahan. Dengan mengangkatkan tangan menyerupai sedang menegguk miras, begitulah cara mereka (penjual) yang sedang menjajakan miras di jalan-jalan.
Pemandangan yang tidak baik lagi, bila warga telah mendapatkan (membeli) Miras mereka minum di tempat-tempat umum yang sebenarnya bila dilihat orang tidaklah tepat. Seperti pinggiran lapangan Trikora, pinggiran taman kali acai bahkan di tengah-tengah taman kota jayapura. Tentunya tempat-tempat tersebut bukan untuk duduk guna Miras. Tapi, apa boleh buat pemerintah tidak mempunyai sebuat kebijakan untuk mengatur atau melarang perilaku-perilaku manusia yang tidak bermoral, karena sembarangan hidup dengan tidak memikirkan setiap orang di sekitarnya.
Seks Bebas, Siapa Yang Tidak Mau
Seks merupakan pelampiasan hasrat cinta kasih yang terdalam bagi pasangan suami dan istri. Tapi bagaimana jika, seks itu menjadi sebuah komoditas untuk mendatangkan uang? Ini adalah masalah kondisi sosial bagi generasi muda papua. Sex bebas kian gencar, tempat-tempat khusus menjadi tempat transaksi. Seperti salah satu rumah warga di weref pantai, kelurahan gurabesi, pemilik rumah menyewakan satu ruang khusus untuk transaksi seks.
Para Pekerja seks komersial jalanan yang sering bermangkal di seputaran taman imbi, pompa bensin lama dan taman mesran, menjajakan tubuh mereka disana, bila pelanggangnya ekonomi lemah ke bawah, yang terdiri dari buruh bangunan, juru parkir, mahasiswa dan lain-lain, maka rumah milik mami yang terletak di weref pantai itu menjadi solusi. Jika pelanggang mereka adalah laki-laki berduit, maka hotel menjadi solusi.
Dari pengakuan PSK Jalanan, untuk sewa ruang milik mami itu hanya sebesar Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) saja. Sedangkan untuk sekali berhubungan badan, itu terkagantung kesepakatan bersama antara PSK jalanan dan laki-laki hidung belang.
Dari hasil penelusuran, memang warga di weref sudah mengetahui rumah itu menjadi tempat untuk berbuat maksiat, tapi warga belum dapat berbuat banyak karena mereka tidak mau sibuk, atau pun juga mereka takut karena para PSK jalanan dan pria tak bermoral itu hampir yang datang kesitu adalah warga lokal, yang notabene adalah orang asli papua.
Di tulis ulang dari web kepugemagaijr.wordpress.com
Kota Jayapura, tidak seperti sepuluh (10) tahun yang lalu. Sewaktu dulu, Warga masyarakat sangat tekun kepada ajaran masing-masing agama. Saya ingat, hampir setiap bulan di adakan kebaktian kebangunan rohani (KKR). Masalah kesejahteraan sosial seperti Miras, Judi, Narkoba (ganja), Togel, Orang Gila, Anak Jalanan yang menghirup Aibon juga tidak banyak. Pada waktu itu, perempuan sangat menjaga diri mereka. Namun sekarang telah terbalik 100 derajat. kota Jayapura, tidak seperti sekarang dengan jumlah penduduk yang kian meningkat. Sangat sayang, kondisi sosial hidup masyarakat kota ini sangat memperihatinkan dari sisi moral yang kunjung menjadi masalah terbesar.
Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua dan Papua Barat, merupakan cara pemerintah pusat untuk menenangkan gejolak politik. Dengan harapan, orang papua sendiri dengan adanya kebijakan khusus bisa menjadi tuan di negeri sendiri, dan memimpin bangsanya dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia (NKRI).
Saya anak muda papua yang tidak mengerti arah dan kebijakan untuk melakukan proteksi yang di lakukan oleh pemerintah papua. padahal sudah jelas, yang mau dilindungi adalah manusia dan alamnya yang perlu di lindungi. Tapi belum sampai kesana, karena produk peraturan daerah khusus yang seharusnya telah di rumuskan tapi hingga kini belum juga ada.
Miras, Semua Kepala Daetrah Tidak Tegas
Pencanangan Papua bebas dari Minuman Keras (Miras) oleh Lukas Enembe, Gubernur Papua itu, tidak tegas. Mengingat penandatanganan deglarasi bersama oleh bupati dan Walikota tentang pemusnahan Miras di Tahun ini tidak dihindakan oleh bupati dan Walikota. Seperti contoh, kota Jayapura. Masyarakat mudah sekali mendapatkan Miras dari Toko dan Miras Racikan (lokal). Belum lama ini, Enembe melantik, pejabat walikota Jayapura pak Daniel Bahabol dan salah satu pesannya yaitu supaya segera memberhentikan peredran Miras, tapi pesan pak gubernur itu, bukanlah pesan yang berarti. Karena pak Daniel Bahabol tidak mampu menjalankan pesan dari atasan.
Peredaran Miras, bukan lagi dijual pada toko-toko tertentu. Sekarang ada Miras yang di jual di kios-kios kecil pinggiran jalan bahkan dengan modus penjual berdiri di pingggiran jalan dan menawarkan miras kepada setiap orang yang sedang mengendarahi kendarahan. Dengan mengangkatkan tangan menyerupai sedang menegguk miras, begitulah cara mereka (penjual) yang sedang menjajakan miras di jalan-jalan.
Pemandangan yang tidak baik lagi, bila warga telah mendapatkan (membeli) Miras mereka minum di tempat-tempat umum yang sebenarnya bila dilihat orang tidaklah tepat. Seperti pinggiran lapangan Trikora, pinggiran taman kali acai bahkan di tengah-tengah taman kota jayapura. Tentunya tempat-tempat tersebut bukan untuk duduk guna Miras. Tapi, apa boleh buat pemerintah tidak mempunyai sebuat kebijakan untuk mengatur atau melarang perilaku-perilaku manusia yang tidak bermoral, karena sembarangan hidup dengan tidak memikirkan setiap orang di sekitarnya.
Seks Bebas, Siapa Yang Tidak Mau
Seks merupakan pelampiasan hasrat cinta kasih yang terdalam bagi pasangan suami dan istri. Tapi bagaimana jika, seks itu menjadi sebuah komoditas untuk mendatangkan uang? Ini adalah masalah kondisi sosial bagi generasi muda papua. Sex bebas kian gencar, tempat-tempat khusus menjadi tempat transaksi. Seperti salah satu rumah warga di weref pantai, kelurahan gurabesi, pemilik rumah menyewakan satu ruang khusus untuk transaksi seks.
Para Pekerja seks komersial jalanan yang sering bermangkal di seputaran taman imbi, pompa bensin lama dan taman mesran, menjajakan tubuh mereka disana, bila pelanggangnya ekonomi lemah ke bawah, yang terdiri dari buruh bangunan, juru parkir, mahasiswa dan lain-lain, maka rumah milik mami yang terletak di weref pantai itu menjadi solusi. Jika pelanggang mereka adalah laki-laki berduit, maka hotel menjadi solusi.
Dari pengakuan PSK Jalanan, untuk sewa ruang milik mami itu hanya sebesar Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) saja. Sedangkan untuk sekali berhubungan badan, itu terkagantung kesepakatan bersama antara PSK jalanan dan laki-laki hidung belang.
Dari hasil penelusuran, memang warga di weref sudah mengetahui rumah itu menjadi tempat untuk berbuat maksiat, tapi warga belum dapat berbuat banyak karena mereka tidak mau sibuk, atau pun juga mereka takut karena para PSK jalanan dan pria tak bermoral itu hampir yang datang kesitu adalah warga lokal, yang notabene adalah orang asli papua.
Di tulis ulang dari web kepugemagaijr.wordpress.com

Saya mau berbagi cerita kepada teman-teman melalui media internet yang dulunya saya berkerja sebagai tukang ojek yang pendapatan tak seberapa untuk menapkai istri dan ke-2 anak saya, namu suatu hari saya merasa kebingungan karna anak saya kepingin lanjut sekolah dan ingin mencapai cita-cita nya,namun saya berbicara dalam hati apakah anak saya bisah melanjutkan sekolah dan mencapai cita-cita nya sedangkan penghasiln yang aku dapatkan tidak tertentu berapa sehari cuma cukup/paspsan untuk buat makan aja. Dan aku merasa sedih melihrt anak-anak saya yang selalu termenung dia takut kalau putus sekolah, namu suatu hari aku berusaha mencari pinjaman kepada orang namun tak satu pun orang yang mau membantuku karna aku tak punya apa-apa yang bisa diambil sebagai jaminan, aku merasa kebingungan dan aku pasrakan pada yang maha kuasah karna kalau memang sudah takdir dan kehendaknyan pasti anak saya sudah tidak bisah lanjut sekolah lagi, kami terima atas ketidak sanggupan saya sebagai orang tua yang tidak mampu membiayai sekolah anak saya. namu suatu hari aku mengantar seseorang kedesa sebrang di situlah aku mendengar cerita pada teman-teman kalau OM AGUS bisah membantu orang yang lagi kesusahan, namun saya dulunya tidak percaya dengan yang namanya peramal, tapi saya juga berpikir tidak ada salah aku mencoba, dan aku memikirkan anak saya yang penuh semangat ingin mencapai cita-cita nya, saya coba bergabung dan menjadi member OM AGUS dan saya menghubungi OM AGUS di nomor 085397766615 PIN BBM 2A870E79 meminta angka jitu/gaib hasil ritual OM,walau saya harus mencari pinjama uang untuk membayar mahar supaya aku bisa mendapatkan angka gaibnya, alhamdulillah atas pemberian dan bantuan OM AGUS kami menang togel Rp.95 juta, atas keberasilan aku memenangkan togel semua hutang-hutang aku telah terlunasih. Termasuk uang pinjaman di koprasih, dan anak saya juga sudah bisah lanjut sekolah lagi mudah-mudahan bisah mencapai cita-cita yang selama ini dia impi-impikan dan sekarang kami sekeluarga mau berbagi kepada teman-teman semua jika anda mau merubah nasib seperti saya atau butuh angka jitu/gaib hasil ritual HUB OM AGUS di 085397766615 atau kunjungi SITUS Klik http://www.togelomtembusjitu.com dijamin 100% tembus dan saya sudah buktikan sendiri, bukan cuma pada saya tapi banyak orang yang berhasil melalui bantuan OM AGUS, jika anda yakin dengan adanya angka gaib silahkan buktikan. BY erik simatupang/padang
ReplyDelete